YOGYAKARTA – Memasuki hari kedua pelaksanaan Health Technology Assessment (HTA) Training di Common Room, Gedung Litbang Lt. 1, fokus pelatihan diarahkan pada pendalaman metodologi teknis dan alat ukur yang menjadi fondasi utama dalam analisis ekonomi kesehatan. Kegiatan ini menghadirkan jajaran narasumber ahli untuk mengupas tuntas instrumen riset epidemiologi dan pemodelan biaya.
Sesi pagi diawali dengan materi Measuring Health Outcomes. Memaparkan berbagai metode pengukuran kualitatif dan kuantitatif dalam menilai dampak intervensi kesehatan terhadap kualitas hidup pasien, serta pentingnya memilih instrumen pengukuran yang valid dan relevan secara klinis. Materi dilanjutkan melalui topik Measures of Disease Frequency, yang membahas perhitungan angka kejadian (incidence) dan prevalensi (prevalence) penyakit sebagai data dasar analisis HTA.
Sesi siang dilanjutkan dengan pembahasan komprehensif mengenai analisis pembiayaan. Dalam dua sesi berurutan, Cost Measurement and Analysis in Healthcare Economic Evaluation dan Steps in Costing, membimbing peserta memahami langkah-langkah sistematis dalam mengidentifikasi sumber daya, mengukur penggunaan komponen biaya, hingga menghasilkan estimasi biaya yang akurat untuk mendukung penilaian efisiensi layanan kesehatan.
Pendalaman materi metodologi ini mendukung implementasi SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui peningkatan kompetensi akademik mahasiswa, peneliti, dan staf medis di lingkungan FK-KMK dan RSA UGM. Kurikulum pelatihan dirancang komprehensif guna melatih para akademisi agar mampu menghasilkan riset-riset bereputasi tinggi yang dapat menjawab tantangan kesehatan nasional.
Hasil kolaborasi riset ini juga dibuktikan dengan penyusunan studi efektivitas biaya seperti “Cost-Effectiveness Analysis of Mammography-Based Breast Cancer Screening in Indonesia” yang ditargetkan terbit di jurnal internasional. Penguatan riset di bidang kanker dan penyakit tidak menular ini secara langsung mendukung SDG 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera) target 3.4, yakni menekan angka kematian dini akibat penyakit tidak menular melalui pencegahan dan pengobatan yang terukur secara ekonomis dan klinis.