Penerapan Health Technology Assessment (HTA) tidak hanya berhenti pada konsep teoritis dan simulasi pemodelan, tetapi juga memegang peranan krusial dalam menentukan kebijakan pembiayaan program imunisasi di tingkat nasional. Sebagai bagian dari rangkaian kegiatan Health Technology Assessment (HTA) Training yang diselenggarakan atas kolaborasi Rumah Sakit Akademik (RSA) UGM dan Clinical Epidemiology and Biostatistics Unit (CEBU) FK-KMK UGM di Common Room, Gedung Litbang Lt. 1, para peserta diajak untuk membedah penerapan nyata HTA dalam kebijakan vaksin melalui materi Health Technology Assessment: HTA Vaccine in Indonesia dan Rotavirus Vaccine Case Study: HTA Process and Outcomes.
Sesi materi Health Technology Assessment: HTA Vaccine in Indonesia membahas secara komprehensif bagaimana pendekatan HTA diterapkan pada program vaksinasi nasional dengan mengintegrasikan pertimbangan klinis, ekonomi, dan kebijakan. Pembahasan menekankan peran strategis HTA dalam membantu pembuat keputusan menentukan penggunaan serta skema pembiayaan vaksin baru berbasis bukti ilmiah, sehingga alokasi anggaran kesehatan nasional dapat dimanfaatkan secara optimal.
Penerapan tersebut kemudian diperdalam melalui pembahasan Rotavirus Vaccine Case Study: HTA Process and Outcomes. Melalui studi kasus vaksin rotavirus, peserta diajak memahami tahapan rinci proses HTA mulai dari evaluasi bukti efektivitas klinis hingga analisis dampak ekonomi. Sesi ini memberikan gambaran konkret mengenai bagaimana hasil penilaian HTA diterjemahkan menjadi rekomendasi kebijakan publik yang langsung dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
Pembahasan mengenai penerapan HTA pada kebijakan vaksin ini berkontribusi langsung pada pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs). Penguatan evaluasi vaksin mendukung SDG 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera), khususnya dalam mempercepat penurunan angka kesakitan dan kematian anak akibat infeksi rotavirus melalui program imunisasi yang terjangkau dan efektif. Selain itu, kegiatan ini mendukung SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) dalam meningkatkan wawasan aplikatif para akademisi dan peneliti kesehatan, serta SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) melalui kolaborasi lintas unit dalam memperkuat pembuat kebijakan kesehatan nasional berbasis riset.
Melalui pendalaman materi HTA vaksin dan studi kasus rotavirus ini, RSA UGM dan CEBU FK-KMK UGM terus mengukuhkan perannya dalam mencetak akademisi dan peneliti yang mampu menghadirkan analisis ilmiah tepercaya demi mendukung kebijakan imunisasi yang tangguh dan berkelanjutan di Indonesia.