YOGYAKARTA – Rangkaian pelatihan Health Technology Assessment (HTA) Training yang diselenggarakan oleh RSA UGM dan CEBU FK-KMK UGM resmi ditutup dengan sesi simulasi interaktif yang berlangsung dinamis di Common Room, Gedung Litbang Lt. 1.
Sesi penutup ini mengusung materi Role Play: Health Technology Reimbursement Process yang dipandu langsung oleh Assoc. Prof. Thea van Asselt, Ph.D. bersama tim fasilitator berpengalaman (dr. dr. Ratna Dewi Puspita, M.Sc., dr. Yudha Nur Patria, Ph.D., Sp.A., M. Rifqi Rokhman, M.Sc., Apt., dr. Rizki Tsalatshita Khair Mahardaya, MPH, Putri Listiani, MPH, dan dr. Sudi Indra Jaya, M.Biomed).
Dalam sesi role play tersebut, para peserta dibagi ke dalam beberapa kelompok pemangku kepentingan (stakeholders), seperti komite penilai HTA, perwakilan pemerintah/penjamin kesehatan, serta penyedia layanan kesehatan. Peserta diajak mensimulasikan proses negosiasi dan pengambilan keputusan terkait penentuan reimbursement (penggantian biaya) suatu teknologi atau terapi kesehatan dengan mempertimbangkan aspek efektivitas klinis, efisiensi biaya, serta dampak kebijakan.
Melalui simulasi ini, peserta mendapatkan gambaran riil mengenai tantangan pengambilan keputusan di dunia nyata, di mana bukti ilmiah harus dipadukan dengan pertimbangan keterbatasan anggaran dan kebutuhan masyarakat.
Praktik simulasi reimbursement ini mempertegas pentingnya pencapaian SDG 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera) melalui tata kelola pembiayaan kesehatan yang adil, efisien, dan transparan. Pengambilan keputusan alokasi anggaran yang berbasis bukti HTA membantu mencegah pemborosan pembiayaan kesehatan (wasteful spending), sehingga dana kesehatan negara dapat dialokasikan secara optimal untuk menjamin cakupan kesehatan semesta bagi seluruh rakyat Indonesia.
Secara keseluruhan, kesuksesan HTA Training ini menandai komitmen berlanjut RSA UGM dan CEBU FK-KMK UGM dalam mengintegrasikan nilai-nilai SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan). Sinergi antara akademisi, praktisi rumah sakit, lembaga riset internasional, dan pembuat kebijakan dipastikan akan terus dibina guna menciptakan ekosistem pelayanan kesehatan yang tangguh, mandiri, dan berkelanjutan.