Yogyakarta — Cochrane Indonesia menyelenggarakan Annual Cochrane Indonesia Translation Meeting secara daring pada Kamis, 14 Agustus 2025, sebagai bagian dari komitmen berkelanjutan untuk meningkatkan kualitas dan kapasitas penerjemahan Rangkuman Berbahasa Sederhana (Plain Language Summary/PLS) dari tinjauan sistematik Cochrane ke dalam Bahasa Indonesia.
Kegiatan yang berlangsung selama satu jam ini diikuti oleh para translator, editor, dan intern yang tergabung dalam tim Cochrane Indonesia Translation. Rapat tahunan ini bertujuan memperkuat pemahaman teknis dalam proses penerjemahan agar hasil terjemahan tidak hanya akurat secara terminologi, tetapi juga mudah dipahami oleh masyarakat luas sebagai bagian dari diseminasi bukti ilmiah berbasis sistematik review.
Acara dibuka secara resmi pada pukul 12.00 WIB dan dilanjutkan dengan sambutan dari dr. Mawaddah Ar Rochmah, Ph.D., Sp.N., selaku Project Manager Cochrane Indonesia Translation, serta sambutan dari Direktur Cochrane Indonesia, Prof. dr. Detty Siti Nurdiati, MPH, Ph.D., SpOG(K). Dalam sambutannya, keduanya menekankan pentingnya peran para penerjemah sebagai jembatan informasi antara bukti ilmiah global dan pembaca lokal di Indonesia.
Sesi inti dilanjutkan dengan tutorial teknis mengenai cara login ke platform Phrase, alat bantu penerjemahan profesional yang digunakan dalam proyek ini. Setelah itu, peserta mendapat pemaparan mengenai penggunaan fitur Term Base dan Term Reference untuk menjaga konsistensi istilah dalam proses penerjemahan. Kedua materi tersebut disampaikan secara interaktif dan ditutup dengan sesi tanya jawab singkat. Pertemuan ditutup dengan dokumentasi dan refleksi singkat atas capaian tim selama setahun terakhir, sekaligus peneguhan semangat kolaboratif menjelang target-target penerjemahan ke depan.
Kegiatan ini tidak hanya memperkuat kualitas hasil terjemahan Cochrane dalam Bahasa Indonesia, tetapi juga mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera) melalui peningkatan akses informasi kesehatan berbasis bukti, SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui literasi ilmiah yang inklusif, serta SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) melalui kolaborasi lintas sektor dan lintas generasi di bidang penerjemahan ilmu kesehatan.